Saat itu tengah malam ketika kami, rombongan dari Surabaya, meninggalkan negeri tercinta. Pesawat lepas landas dari Juanda dan melesat dengan kecepatan hingga 500 km/jam di udara bebas. Kami semua menuju Taiwan untuk belajar.
Tepat di hari ke 10 Ramadhan kami tiba di negeri asing yang berbeda kultur sosial dan budaya, bahkan berbeda keyakinan. Banyak pengalaman baru sejak boarding di Juanda hingga keluar dari bandara internasional Taipei. Mulai dari urusan keimigrasian hingga scanning otomatis wabah penyakit yang canggih. Oh ya, selain kami juga ada banyak rekan-rekan TKI yang berangkat bersama rombongan. Mereka terlihat jauh lebih berpengalaman dari kami dalam hal bepergian ke luar negeri. Mereka tangkas sekali dan terlihat mahir mengurus segala sesuatu di bandara. Hehehe … memangnya dosen selalu lebih pintar hanya karena pekerjaannya mengajar?
Di pintu keluar penumpang, seorang wanita muda mondar-mandir menenteng selembar karton bertuliskan NTUST. Sesekali dia, yang ternyata bernama Lidya Tsai, menanyai penumpang yang keluar dari bandara dengan bahasa inggrisnya yang berlogat china. Kami menduga dialah orang yang menjemput kami seperti yang diumumkan lewat email beberapa hari sebelumnya. Setelah memastikan semua anggota rombongan yang dinantinya lengkap, dia menggiring kami ke bus di luar bandara. Kami pun menuju NTUST.
Sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan sekitar bandara yang ternyata sangat hijau. Tampak gugusan bukit dengan pepohonan yang rindang menghijau mengitari bandara yang perlahan kami tinggalkan. Masih sedikit kami temui gedung tinggi bertingkat dan beberapa bangunan industri. Pemandangan yang indah dan baru, mampu membuat kami menahan rasa lelah dan kantuk yang amat sangat karena penerbangan panjang.
Perlahan kami mulai memasuki perkotaan. Dominasi bangunan tinggi bertingkat dan jalan raya 3 lajur yang lebar sudah mulai tampak. Lalu lintas masih lancar, terlihat jumlah kendaraan yang lalu lalang lebih sedikit dibandingkan dengan kapasitas jalan raya. Berkebalikan dengan jalanan di Indonesia yang harus menampung jumlah kendaraan melebihi kapasitasnya sehingga sering macet.
Hey! Ada motor melenggang membelah arus lalu lintas. Ternyata disini jumlah motor banyak juga. Tapi kok semuanya type matic ya dan modelnya sama semua. Bukan hanya itu, manufakturer-nya juga sama KYMCO. Apakah disini ada kebijakan pemerintah untuk mengutamakan pemakaian produk dalam negeri? Mungkin saja, ini kan negeri sosialis.
Tidak terlalu banyak orang berkeliaran di trotoar sepanjang jalan yang kami lalui padahal disana bertebaran area pertokoan. Oh iya, ini kan jam kerja. Tentunya mereka sedang sibuk beraktifitas di tempat kerjanya masing-masing. Setelah satu jam perjalanan menggunakan bus yang nyaman, tidak terasa kami pun tiba di halaman utama NTUST- kampus kami. Disana sudah ada beberapa pendahulu kita dari Indonesia yang menunggu kedatangan kami. Yaa Allah, mantapkanlah hati ini untuk memperbaiki kualitas diri, amin!