Pelita

Catatan & diskusi

Ikhtiar dan Hasilnya ….

Sebuah bus antar-kota jurusan Surabaya-Situbondo melaju kencang menyusuri jalan beraspal yang tampak berair akibat teriknya mentari. Bus yang hanya terisi 6 orang penumpang, 1 orang sopir, 1 orang kenek, dan 1 orang kondektur terasa seperti sebuah “OVEN” raksasa yang melaju 100 km/jam. Aku dan seorang temanku turut berada di dalamnya.

Perjalanan yang memakan waktu 6 jam membuatku capek. Obrolan dengan temanku pun sudah mulai berkurang. Jenuh … panas … berkeringat … gerah. Untuk mengusir semua rasa itu aku mengajak temanku pindah tempat duduk di dekat Pak sopir yang sedang mengendalikan “Kereta Besi”. Maka dimulailah sebuah percakapan yang cukup mengesankan bagiku dan insyaallah bermanfaat di kemudian hari.

“Sepi, Pak?” tanyaku tentang jumlah penumpang yang sedikit kepada Pak Sopir.

” Ya … beginilah, Mas” jawabnya singkat.

“Padahal kan tidak banyak bus yang melintas di jalur ini ya, Pak?” aku coba membandingkan dengan jalur-jalur lain dari bus antar kota yang pernah aku tumpangi.

“Terakhir kali ke Situbondo bus selalu penuh, apalagi ini kan sedang masa liburan” aku coba melogika sebab sepinya penumpang.

“Itulah Mas rizqy, meskipun jalur yang ditempuh sama tapi penghasilan tiap sopir berbeda-beda” jawab Pak Sopir dengan tenang dan sederhana.

Sejenak aku berpikir, memang benar kata Pak sopir. Lintasan bus boleh sama tapi yang menentukan penumpang yang diangkut, penghasilan yang diperoleh bisa jadi sangat berbeda antara satu sopir dengan sopir yang lainnya. Hal ini mungkin berlaku juga untuk masalah yang lain.

“JALAN IKHTIAR BOLEH SAMA, TAPI HASIL TETAP BERGANTUNG IZIN ALLAH”

Tapi tanpa ikhtiar, jelas pintu rizki/hasil/kesuksesan gak akan pernah terbuka karena itulah “Sunnatullah” dari Rabb semesta alam, Allah SWT, terhadap makhlukNya.

Aku bersyukur sekali untuk pengalaman itu. Dengannya terbangun kesadaran bahwa makhluk bebas berikhtiar yang terbaik bagi kesuksesannya tapi Allah yang menentukanhasilnya. Insyaallah, makhluk yang sungguh-sungguh berikhtiar dengan baik memenuhi sebab-sebab datangnya kebaikan akan selalu memperoleh kebaikan meskipun dalam takaran yang berbeda-beda karena keadilan Allah.

Prinsip ini cukup membangun semangat untuk terus berusaha yang terbaik dan berserah diri sepenuhnya pada Allah yang Maha Kuasa terhadap hasilnya. Semoga dengan itu jiwa selalu bersemangat pada kebaikan, tidak iri pada rizqy/keberhasilan orang lain, tidak lemah dan berputus asa ketika tidak memperoleh seperti yang diberikan Allah kepada saudara kita yang lainnya.

Terima kasih Yaa Allah … terima kasih Yaa Muhammad SAW … terima kasih pak sopir saudaraku. Semoga rahmat Allah terlimpah pada kita semua. Amiin …!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 30, 2007 by in Renungan.
%d bloggers like this: